Adat Sudah Final! Ka Ompek Suku Sepakat, Pasar Payakumbuh Sah Dibangun

Payakumbuh- Polemik terkait pembangunan Pasar Payakumbuh yang kembali mencuat di ruang publik perlu disikapi secara utuh dan jernih berdasarkan perspektif adat Minangkabau. Isu yang menyebutkan bahwa “ninik mamak belum sepakat” dinilai tidak sejalan dengan mekanisme dan fakta adat yang berlaku di Nagari Koto Nan Ompek.

Dalam adat Minangkabau, tanah ulayat merupakan pusako tinggi yang kewenangan pengelolaannya berada pada suku-suku pemilik ulayat. Keputusan atas pusako tinggi ditentukan melalui mufakat Ka Ompek Suku, bukan oleh pendapat perorangan, dan bukan pula oleh pernyataan di luar forum adat yang sah.

Terkait pemanfaatan tanah ulayat untuk pembangunan Pasar Payakumbuh, Ka Ompek Suku di Nagari Koto Nan Ompek telah mencapai kesepakatan bersama. Kesepakatan tersebut kemudian disetujui dan diperkuat oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Nan Ompek sebagai lembaga adat nagari yang berwenang mengesahkan keputusan adat.

Penting dipahami bahwa Ka Ompek Suku bukanlah unsur simbolik, melainkan pemegang pusako kato dan pusako hak. Kedaulatan atas tanah ulayat berada pada suku, sementara KAN berfungsi mengesahkan dan menjaga keputusan mufakat agar berlaku dalam tatanan nagari. Ketika Ka Ompek Suku telah bermufakat dan KAN menyetujuinya, maka secara adat kato adat telah sampai ke puncaknya, 'Sah', 'Final', dan mengikat seluruh unsur adat nagari.

Dalam adat Minangkabau ditegaskan,

“Kato mufakat alah bakuaso, indak buliah dipatahkan dek kato sorang.”

Artinya, keputusan bersama tidak dapat dibatalkan oleh pendapat individual, sekalipun berasal dari tokoh adat.

Tokoh adat Koto Nan Ompek, Dr. (C) Zeki Oktariza Karini, SH, MH, Dt. Paduko Sati Marajo, menegaskan bahwa keputusan terkait Pasar Payakumbuh sepenuhnya berangkat dari mufakat Ka Ompek Suku.

“Urusan tanah ulayat itu wewenang suku. Nan dipakai itu kato mufakat Ka Ompek Suku. Kalau alah mufakat, indak ado kato lain nan bisa mambaliakkannyo,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa adat Minangkabau tidak menghambat pembangunan, selama keputusan tersebut lahir dari mekanisme adat yang benar.

“Adat indak manghalang pembangunan. Adat justru jadi payuang supaya pembangunan bajalan luruih dan baraka,” tambahnya.

Adapun Ka Ompek Suku Nagari Koto Nan Ompek yang telah menyatakan mufakat dalam persoalan Pasar Payakumbuh adalah:

Suku Bodi Chaniago: H. Makmur Asykarullah, Dt. Sinaro Kayo

Suku Sembilan Ompek Parompek: Tegas Teguh Kata, Dr. Rajo Mantiko Alam

Suku Limo Nan Tujuh: Yamer Edi, Dt. Penghulu Rajo Nan Data

Suku Ompek Niniak: Noveri, Dt. Rajo Pangulu

Sebagai tindak lanjut administratif, Pemerintah Kota Payakumbuh bersama KAN Koto Nan Godang dan KAN Koto Nan Ompek juga mencatatkan kesepahaman dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI), Jakarta, pada 21 Desember 2025, terkait Tanah Ulayat Nagari Koto Nan Godang dan Koto Nan Ompek.

Seiring beredarnya berbagai pandangan di ruang publik, klarifikasi adat ini disampaikan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang lurus dan utuh. Secara adat, pendapat di luar mufakat Ka Ompek Suku tidak membatalkan keputusan yang telah disepakati bersama dan disahkan KAN.

Zeki Dt. Paduko Sati Marajo juga mengajak seluruh elemen masyarakat—niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama, tokoh masyarakat, serta masyarakat Kota Payakumbuh secara luas—untuk bersama-sama mendukung Pemerintah Kota Payakumbuh dalam mewujudkan pembangunan Pasar Payakumbuh.

“Pembangunan pasar ini adalah untuk kepentingan orang banyak. Kalau adat alah mufakat, mari kito basamo-samo manyokong pemerintah demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kota Payakumbuh,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Kamis malam (1/1/2026). (Bbz)

Posting Komentar untuk "Adat Sudah Final! Ka Ompek Suku Sepakat, Pasar Payakumbuh Sah Dibangun"

 


IP. Indra Plastik Melayani Sablon Karung, Kertas, Kotak/Box.Dll

Hp.082388221126